Surabaya, 09/01/2017, pergantian kepemimpin BEM FKIP pereode sebelumnya dengan kepemimpinan yang baru dan sekaligus dilanjutkan dengan pelantikan HIMA PGSD yang merupakan jurusan baru di FKIP. Oleh karena itu sesuai dengan Jurusan yang berorientasi pada keguruan maka tema yang diambil berkaitan degan karakter yaitu: Imlementasi Pendidikan Berkarakter dalam Menghadapi Bonus Demografi Pada tahun 2020-2030” di laksanakan di aula gedung G LT 6 UMSuarabaya 08 Januari 2017.

Pelantikan BEM Fakultas yang dipandu langsung oleh Dekan FKIP Dr. M. Ridlwan, M.Pd membcakan SK BEM dan diteruskan dengan sumpah pelantikan. Kemudian setelah selesai pelantikan BEM dilanjutkan dengan pelantikan HIMA PGSD yang dipandu langsung oleh Kaprodi PGSD Badruli Martati, SH,. MA., M.Pd dan diakhiri dengan sumpah pelantikan HIMA.

Nurhidayatullah Ramadhan sebagai ketua BEM Fakultas dimesioner menyampaikan dalam sambutannya bahwa, kepemimpinan yang diemban saat ini lebih berat dari sebelumnya karena ketambahan prodi baru PGSD. Mahasiswa semister 7 itu menambahkan bahwa tantangan BEM kedepan saat ini relatif banyak sehingga itu menjadi PR bagi BEM yang baru. Tetapi itu bukan masalah serius selagi diantara jajaran BEM solid dan sinergi antara BEM dengn HIMA, maka roda kepemimpinan BEM FKIP kedepan berlangsung dengan baik, ujarnya.

Kemudian Khalidatun Nafizah sebagai ketua BEM baru menyampaikan dalam sambutannya kami sangat optimis untuk memajukan roda organisasi di fakultas, karena mahasiswa semister 5 itu yakin bahwa dengan melanjutkan estafet kemimpinan ini sudah menjadi pemikiran bersama dan berkomitment menjadikan BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiakan lebih baik lagi dari sebelumnya, tegasnya.

Drs. Suyoto, M.Si Bupati Bojonegoro dalam seminarnya menyampaikan bahwa Negara atau suatu bangsa harus dibangun dengan nilai – nilai karakter. Karena menurut orang nomer 1 di Bojonegoro itu bahwa manusia memiliki dua dimensi yaitu, dimensi produktif dan dimensi membebani. Menapa manusia produktif harus berkarakter? Karena intelektual bukan menjadi proritas utama, sehingga percuma menjadi manusia produktif namun tidak berkarakter tentunya ujung-ujungnya akan binasa, ujarnya.

Di Negara Indonesia secara empiris mengapa selalu terjadi kesenjangan atau disparitas. Karena itu terjadi dipicu faktor politik yang tidak berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Kalau dalam konteks keadilan sosial yang selalu didengungkan oleh para politikus, mamun semua itu tidak mencerminkan keadilan yang sesungguhnya, sehingga konteks itu malah menjadi momok dalam menghancurkan bangsa itu sendiri, tegasnya.

Poltik yang baik dalam suatu Negara itu dibangun oleh politisi berkarakter yang bertanggung jawab. Membangun sifat yang baik dalam membentuk kepribadian yang produktif dan berkarakter itu menjadi keharusan bagi sebuah bangsa. Mana bisa sebuah bangsa mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan kalau tidak berkarakter, jelasnya.

Untuk menjadi pribadi berkarakter yang produtif tentunya ada empat karakter yang bisa dibangun dan diupayakan dalam membentuk suatu bangsa baik yaitu, bahagia sebab menerima, bahagia sebab memiliki, bahagia sebab menghasilkan, dan bahagia sebab memberi atau mempersembahkan, ujarnya. (Ari/FKIP)